Apply to be a Chitika Publisher!

Thursday, 25 April 2013

Format (Baru) Musik Digital di Indonesia

Tepat pada 6 Februari 2013, grup band Musikimia, terdiri dari vokalis Fadly, bassist Rindra, drummer Yoyo, gitaris Stephen Santoso merilis single perdana mereka, “Apakah Harus Seperti Ini”, lewat iTunes. Pada waktu yang sama, band yang merupakan sempalan dari band Padi ini juga merilis video klip lagu yang dibuat di Beijing.

“Walaupun ada kesalahan audio di video klip, ternyata yang versi awal audio mono. Tapi sudah kami ganti dengan yang stereo sekarang,” ungkap Ari gitaris Padi yang sekarang menjabat sebagai manajer Musikimia sambil terkekeh. Lagu Musikimia di iTunes dijual seharga Rp 5.000 sementara untuk video klip lagu ini dijual Rp 9.000. 

Trio RAN juga membuat terobosan yang sama dengan merilis single “Hari Baru” lewat iTunes Store Indonesia. Seiring dengan ini, mereka bekerja sama dengan pihak Samsung, yaitu RAN menjadi duta digital untuk produk Samsung Galaxy S III Mini.


Sebuah album mini yang menjadi soundtrack film omnibus Rectoverso juga merilis Rectoverso EP berisi empat lagu lewat iTunes Indonesia, yaitu “Malaikat Juga Tahu” dari Glenn Fredly, “Hanya Isyarat” dari Drew, “Curhat Buat Sahabat” dari Acha Septriasa, serta “Cicak Di Dinding” dari Dira Sugandi.

Seperti ditulis dalam Editor’s Note Rolling Stone Indonesia edisi Januari 2013, iTunes Store Indonesia yang resmi menjual karya lagu, album dan film Indonesia sejak awal Desember 2012, dan menyusul video klip dan buku, ini menjadi terobosan baru era digital download di Indonesia yang selama ini dikuasai oleh akses ilegal di Internet.

Sejak layanan konten premium di-reset dengan keluarnya keputusan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia dengan Surat Edaran BRTI No.177/BRTI/X/2011 tertanggal 18 Oktober 2011 untuk me-reset server-server ringback tone (RBT) untuk kembali di titik nol, maka Black October terjadi.

Label rekaman banyak bergerilya mencari alternatif pemasukan dengan kembali berjualan fisik, lewat bundlingdengan KFC, Seven Eleven, Indomaret, Es Teler 77, pom bensin serta restoran dan gerai lain.

Mereka juga gigih mencari alternatif layanan konten digital dengan formulasi full track download sertastreaming. LangitMusik, MelOn, Telkom, dan Nokia Music adalah beberapa layanan konten digital baru yang mereka sasar. Kabar menggembirakan adalah hadirnya iTunes Store Indonesia mulai akhir tahun 2012 lalu.

“Sebelum bahas iTunes, ada baiknya kita bahas sejenak RBT. Sangat disayangkan bahwa regulator yang mengeluarkan banyak regulasi yang katanya memproteksi konsumen tetapi sepertinya tidak kondusif mendukung music Indonesia (ketika layanan SMS premium di-reset),” papar Ra-djasa “Bimbom” Barkah, Managing Director Universal Music Indonesia yang juga merangkap sebagai Humas ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia).

Menurut Bimbom, RBT bukan hanya sumber komersialisasi tapi juga sumber promosi. “Platform yang sangat unik. RBT jadi music player oleh orang yang mendengar. Kalau platform lain didengar sendiri, yang ini dinikmati oleh orang. Konten menjadi representasi diri dia. Lebih penting lagi, tidak pernah ada konten digital yang sebegitu sahnya secara legal. RBT paling lengkap. Sampai tanda tangan si pencipta ada. Begitu sukses karena begitu legalnya konten ini. Salah satu aspek penting dalam komersialisasi digital kan legal aspek. Kita sedang membuat kampanye dengan dua telco di Indonesia (XL dan Indosat) dengan membuat Pesta RBT. Harusnya usaha itu juga didukung oleh regulasi baru. Kami kaget dengan regulasi yang kemudian diberlakukan ke kami semua."

“Banyak upaya dari asosiasi untuk melobi pemerintah dan kementerian tapi sampai saat ini belum ada titik terang dan progresnya. Di saat bersamaan, ketika kita mengupayakan RBT itu, masuk platform lain di Indonesia, platform yang lebih stabil tapi belum terbukti di sini (iTunes Store Indonesia). Kalau RBT, track record lima tahun (2006-2011) terlihat, dari tidak ada sampai kemudian dipakai oleh 30 juta pelanggan RBT. Sejak regulasi me-reset semua konten premium dikeluarkan, akhirnya pelanggan RBT sekarang berkurang 85 persen. Tinggal sekitar tiga juta. Angka tiga juta pengguna RBT itu juga tidak jelas, apakah mereka dapat RBT gratis. Di lain pihak, kami sadar kenapa regulasi itu dibuat, untuk melindungi dan menjaga hak konsumen. Tapi kalau lebih dalam lagi dasar-dasarnya apa? Tidak jelas juga apakah ada tersangka dari kasus ini. Nggak tahu sama sekali saya. Banyak pihak, seperti Kementerian Kominfo, Kementerian Perdagangan dan si pembuat regulasi, mereka semua menjawab mengerti saja tapi tetap tidak ada progress yang membuat kami di label ada harapan.”

Kelas baru mulai tercipta dari pengguna smartphone dan tablet. Mereka mulai rajin dan terbiasa membeli lagu lewat kanal iTunes Store Indonesia. Dengan tersedianya materi lagu, ringtones, album serta film, ini menjadi titik cerah bagi dunia full track download yang selama ini masih belum membudaya di Indonesia. Banyak pemakai gadget kelas mahal atau murah yang memenuhi gadget mereka dengan lagu-lagu bajakan yang bebas unduh di Internet.

Membeli lagu lewat iTunes Store Indonesia rentang harganya adalah 5000 sampai 7000 rupiah per lagu, relatif murah. Namun jika membeli satu album penuh, harganya antara Rp 45 ribu sampai Rp 65 ribu. Ini hampir mendekati harga CD yang saat ini ada di kisaran Rp 35 ribu sampai Rp 100 ribu. Untuk film, harga mulai Rp 99 ribu hingga Rp 169 ribu. Ada pula sistem peminjaman dengan harga Rp 19 ribu sampai Rp 29 ribu.

Ini tentu menjadi angin segar bagi mereka yang menyukai berbelanja konten dalam wujud digital seperti iPhone, iPad, Mini iPad, iPod dan ragam jenis produk Apple lainnya. Penikmat musik dan film yang selama ini susah mendapatkan akses membeli konten digital akan dimanjakan oleh kehadiran iTunes Store Indonesia ini.

Bukan hanya Indonesia yang mendapat kesempatan akses iTunes Store dan mulai bisa menjual lagu, film dan banyak layanan ber-ikutnya seperti buku digital. Ada 55 negara lain. Total dengan masuknya Indonesia dan negara-negara lain ini, saat ini Apple sudah tersedia di 119 negara.

“Untuk saat ini penjualan digital di iTunes Store Indonesia belum terlalu signifikan, tapi ada grafik yang terus menanjak dari pembelian konten digital,” kata Bimbom. Beberapa perusahaan rekaman terkemuka di Indonesia tentu memanfaatkan iTunes Store Indonesia dengan maksimal, seperti yang dilakukan Universal Music Indonesia, Sony Music, Musica Studio’s, Trinity, Warner serta Aquarius. Selain itu, ada banyak pihak yang juga menjadi agregator untuk musisi di luar label yang ingin lagu dan albumnya bisa dijual di iTunes Store Indonesia.

Salah satu artis pendatang baru yang lagunya paling banyak diunduh lewat iTunes Store Indonesia adalah Cakra Khan. Artis yang berada di bawah label My Music yang bekerja sama dengan Sony Music ini berhasil menempatkan satu-satunya lagu miliknya, “Harus Terpisah”, beberapa minggu bertengger di puncak chart. Sampai saat tulisan ini dibuat, lagu “Harus Terpisah” masih mondar-mandir di chart iTunes Store Indonesia.

Jan Djuhana, mantan senior A & R di Sony Music Indonesia, menemukan lagu “Harus Terpisah” dari pencipta lagu bernama Aldi Nada Permana. Lagu tersebut kemudian ditawarkan ke penyanyi pendatang baru bernama Cakra Khan. Belakangan, Aldi Nada Permana membentuk duo Suave di bawah bendera Orian Records, milik Richard Buntario.

“Cakra Khan masuk salah satu dari big ten download dari label Sony Music. Selain Cakra Khan, ada nama Judika, Destiny’s Child, Celine Dion, David Foster, One Direction, Foster the People, Terry, Sandhy Sondoro, Alicia Keys, serta Musikimia,” ujar Peter Hendarmin, Associate Marketing Director Sony Music Indonesia yang mengaku bahwa pihak Sony Music baru beberapa bulan ini menjual banyak katalog musiknya lewat iTunes Store Indonesia.

Meidi Ferialdy dari Aquarius Musikindo mengatakan labelnya sudah menjual lagu lewat iTunes sejak tahun 2008 sampai 2010 melalui salah satu agen iTunes dan sejak Juni 2012 berjualan di iTunes langsung de-ngan Apple Inc.

“Belum ada aggregator resmi di Indonesia, meskipun Aquarius Musikindo dan label internasional sudah ada kerja sama langsung dengan Apple Inc. Dan rasanya pihak yang dapat mendistribusikan digital content ke iTunes Store dapat dikatakan aggregator, walau tidak dibilang official aggregator,’ lanjut Meidi.

Nama Bunga Citra Lestari dari Aquarius dengan lagu “Cinta Sejati” yang menjadi soundtrack film Habibie & Ainun sempat beberapa minggu meraih puncak chart di iTunes Indonesia bersaing dengan Cakra Khan dan NOAH. Selain itu, lagu dari label Aquarius yang banyak diunduh adalah Dewa19, Agnes Monica, Ari Lasso, Opick, Melly, Reza, KLa Project (album Best Cuts), Once, Drew, D’Cinnamons, dan Titi DJ. Tidak hanya menjual dari katalog artisnya, ternyata Aquarius juga menjadi aggregator untuk album digital dari Coboy Junior milik label Seven Music.

Artis di bawah label Musica Studio’s yang selama awal Februari 2013 banyak diunduh adalah NOAH dengan “Separuh Aku” dan “Hidup Untukmu Mati Tanpamu” serta Nidji dengan single “Di Atas Awan” dan “Rahasia Hati”.

Soal pembagian royalti untuk artis, pencipta lagu, arranger lewat iTunes di Indonesia ini beragam, menurut Dian Nurvianty, Senior Marketing & International Manager dari Musica Studio’s. “Untuk content di iTunes, tidak ada arranger khusus. Perhitungan royalti ada dua, yaitu royalti fisik dan digital. Untuk iTunes, masuk dalam perhitungan royalti digital. Untuk royalti, tiap artis mendapatkan royalti berbeda-beda. Sedangkan royalti untuk pencipta lagu, Musica mengikuti ketentuan industri musik, yaitu sembilan persen all rights untuk digital dan enam persen mechanical rights untuk fisik.”

Yonathan Nugroho, Managing Director dari Trinity Optima Production, juga mengatakan untuk share soal royalti di iTunes untuk artis, perhitungannya sama dengan RBT. Yonathan mengatakan labelnya sejak awal Desember 2012 menjual katalog mereka lewat aggregator bernama Valleyarm yang berkantor di Australia.

“Saya belum bisa menyebutkan big 10 download artis dari label Trinity, karena belum menerima laporandownload dari Valleyarm,” paparnya.

source:rollingstone

No comments:

Post a Comment