Apply to be a Chitika Publisher!

Saturday, 20 April 2013

Rumahsakit Menggelar Konser di Rolling Stone Cafe

Konser penuh keintiman dan nostalgia. Itulah yang terlihat di konser Rumahsakit yang digelar pada hari Sabtu kemarin (6/4) di Rolling Stone Cafe, bekerja sama dengan Djarum Super Mild. 

Rumahsakit berhasil membawa nostalgia bagi sebagian penonton yang dibesarkan di era '90an lewat Poster Cafe, salah satu lanskap musik independen Indonesia. Namun tidak sedikit juga penonton yang masih bersekolah, yang ketika album pertama Rumahsakit dirilis mungkin mereka masih mengenakan seragam putih merah. 
Namun Rumahsakit bukanlah band yang menjual nostalgia saja. Mereka memulai penampilannya dengan “Manuver Gelombang Pasang,” tanpa vokalis Andri “Lemes” Ashari yang belum menampakkan diri di atas panggung. 


Gitaris Mark Ricardo Najoan mengambil posisi vokal, walaupun suaranya tidak terlalu terdengar. Setelah lagu itu selesai dibawakan, Andri Lemes naik ke atas panggung, dan “Datang” pun dimainkan.

“Gue udah main dari tahun ‘94 tapi masih deg-degan saja kalau mau main,” ujar Andri yang ditimpali tawa para penonton. Malam itu Andri memang merangkap sebagai seorang vokalis band sekaligus penghibur karena celotehannya yang sering memancing gelak tawa. 

Setelah membawakan “Terbalik,” Andri mengundang Wahyu 'Acum' Nugroho, vokalis Bangkutaman, band folk-pop yang dulunya berbasis di Yogyakarta dan sekarang di Jakarta. Acum lalu bercerita bagaimana dia dulu mengenal Rumahsakit dan mengaku bahwa pertama kali menonton Rumahsakit tahun 1996 di Yogyakarta. Bahkan di awal terbentuknya, Bangkutaman pernah membawakan lagu-lagu dari Rumahsakit. 

Malam itu, Rumahsakit berduet dengan Acum membawakan “Untuk Semua” dan “2000 Miles”, dan tak lupa Acum juga memainkan instrumen yang biasa ia mainkan di Bangkutaman, yakni harmonika.

Beberapa hari sebelumnya, ketika dihubungi Rolling Stone, Andri memang mengungkapkan bahwa mereka akan berkolaborasi dengan empat bintang tamu yang waktu itu masih dirahasiakan. Jadi setelah Acum Bangkutaman, Rumahsakit akan berkolaborasi dengan tiga musisi lain. 

Malam itu Andri juga kadang-kadang menceritakan dari mana tema lagu-lagu mereka berasal. Seperti “Psychic Girl,” Andri bercerita bahwa ketika lagu itu dibuat musik Japanese rock atau J-Rock sedang mewabah. Andri mengaku bahwa dia tidak terpengaruh, namun ia sangat menggemari tokusatsu (film-film sci-fi/fantasi live-action seperti Kamen Rider) dan anime, dan hal-hal tersebut yang menginspirasi Andri menciptakan lagu yang pernah diaransemen ulang oleh trio elektronik Goodnight Electric tersebut.

Seorang bintang tamu kembali diundang untuk berkolaborasi, yaitu Tony Setiaji, gitaris unit garage rock asal ibukota, The Brandals. Mereka membawakan dua lagu dari album kedua Rumahsakit, Nol Derajat (2000), “Mati Suri” dan “Petir, Kilat & Halilintar”. 

Sesaat sebelum lagu “Petir, Kilat & Halilintar” dibawakan, Andri bercerita bahwa keadaan krisis moneter yang melanda bangsa ini di tahun 1998-lah yang menginspirasi mereka membuat lagu tersebut. Usainya lagu itu menandakan selesailah sesi pertama konser Rumahsakit malam itu.

Usai istirahat sekitar 15 menit, Rumahsakit kembali ke atas panggung dan membawakan “Dewi Mimpi” dengan format akustik, lengkap dengan suara latar harmonis dari masing-masing anggota, mengingatkan akan The Beach Boys. 

Mereka mengundang bintang tamu ketiga untuk berkolaborasi, yaitu vokalis grup elektronik Goodnight Electric, Henry Foundation, untuk membawakan lagu dari album terbaru mereka, 1+2 (2013), “Sirna”. Perpaduan apik suara keyboard dari keyboardist McDonald “Mickey” Najoan, penyanyi latar Kevin Najoan dan Grace Lasander yang diboyong oleh Rumahsakit ke panggung, dan marakas yang dimainkan oleh Henry Foundation, membuat lagu tersebut sangat kental aroma Primal Scream dan Happy Mondays. 

Setelah Henry Foundation selesai menunaikan tugasnya, Rumahsakit melanjutkan konser dengan “Pisang,” “Sakit Sendiri,” “Anomali,” yang mengundang koor massal dari para penonton. Juga tak lupa single dari album terbaru mereka, “Bernyanyi Menunggu”, serta lagu “Free” yang malam itu diplesetkan menjadi “Free Mashon” karena di mash-up dengan berbagai macam lagu lain: ”Rain” dari The Beatles, “Let Forever Be” dari The Chemical Brothers, “Devil’s Haircut” dan “New Pollution” dari Beck, serta “I Am The Resurrection” dari The Stone Roses, dengan pembagian vokal utama secara bergilir antara Andri, Mark, bassist Shendy Adams dan Mickey. 

Tiga bintang tamu sudah bermain semua bersama Rumahsakit, lantas siapa satu lagi? Ternyata dia adalah Jimi Multhazam, vokalis The Upstairs dan Morfem, yang turut menyanyikan “Kuning”. Lagu ini memang kerap dibawakannya bersama Morfem. “Album Nol Derajat menjadi soundtrack puncak kegembelan gue. Album itu menemani hari-hari gue saat itu,” ungkap Jimi.

Acara sudah berjalan hampir dua jam, 17 lagu telah dibawakan, maka Rumahsakit merasa harus mengakhiri konser malam itu. Lagu andalan mereka, “Pop Kinetik”, didapuk menjadi penutup konser malam itu, membuat para penonton bernyanyi bersama lagu tersebut, namun penonton tampak belum puas. 

Mereka meneriakkan "Encore" setelah lagu itu usai, dan Rumahsakit kembali dengan lagu “Hilang,” dengan mengundang para kolaborator yang sudah ikut bernyanyi dari tadi, yaitu Acum, Tony, Henry, dan Jimi untuk ikut bernyanyi kembali. Suasana pun ‘pecah’ dan klimaks.

Dua ratus penonton pada malam membuat suasana konser menjadi intim. Berbagai lapisan usia tidak membendung koor massal terbentuk, dan Rumahsakit berhasil membuat konser malam itu membekas di benak masing-masing penonton. Mereka memang bukan kumpulan manusia biasa.


source:

No comments:

Post a Comment