Apply to be a Chitika Publisher!

Thursday, 25 April 2013

Rock Hangat Pembeku Waktu, Incoming: KarnaTra


“Di saat yang lain bergerak maju dengan segala inovasi musik, kami diam di tempat. Itu yang membuat kami berbeda dan kami nyaman di sana,” tukas Aditya Naratama selaku vokalis KarnaTra ketika ditanya tentang beda band yang berakar pada musik Britrock era 90-an ini dengan band lain.

Namun, Aditya bersama gitaris Teguh Putra Alliansich, bassist Ricky Rahim Putra, dan penabuh drum Brian Pangemanan menyanggah bahwa musik mereka beraliran Britrock.

“Mungkin Brit itu akarnya, tapi kami tidak mengklasifikasikan musik kami sebagai musik Brit. Selama ini orang menebak musik kami mirip Morrissey, The Cure, tapi orang bingung sebenarnya apa musik kami. Kalau Ndit bilang, musik kami itu warm rock,” tukas Teguh yang akrab disapa Puguh.
Pernyataan tersebut kemudian diamini oleh Aditya yang kerap dipanggil Ndit. “Sebenarnya kalau mau diibaratkan dari semua latar belakang influence musik kita, misalnya kita berempat mau nongkrong nih, kumpulnya di mana? Ya, di Britrock. Setelah itu mau ke mana? Ya belum tahu. Daripada pusing gue bilangwarm rock. Musik kami familier dan mudah didengar. Kalau mau dianalogikan jadi rock hangat dari keturunan matahari.”

KarnaTra memang mendeklarasikan diri mereka sebagai keturunan matahari. Dalam bahasa Sansekerta, “Karna” berarti matahari. Terilham dari kisah Mahabharata, Ndit menyisipkan kata “Karna” juga karena adanya kisah dari Dipati Karna, karakter favoritnya yang lahir dari kuping. Sedangkan “Tra” terinspirasi dari kata “trah” yang berarti klan atau keturunan.

“Mengapa keturunan matahari? Matahari kan maknanya selalu bagus terutama di Asia karena dia kasih kehidupan. Sumber energi lah, sumber kehidupan, sumber berkah,” tutur Ndit menjelaskan makna nama KarnaTra.

Embrio KarnaTra sendiri sebenarnya sudah terbentuk ketika Alter Ego lahir ke dunia musik. Band dari Ndit dan Puguh kala duduk di bangku SMA ini merupakan embrio yang lahir prematur. Belum ada kematangan musik dari band yang sering membawakan gubahan lagu 311, Incubus, hingga System Of A Down ini. Setelah melalui bongkar pasang personel, akhirnya Alter Ego melahirkan kepribadian lain mereka dalam KarnaTra.

KarnaTra tumbuh menjadi “anak asuh” yang cerdas ketika Rahim alias Racim masuk dan menyuntikkan nyawa Britrock kental ke dalam aliran musik mereka. Semua personel mengakui setelah masuknya Racim, mereka dapat memantapkan langkah untuk bermusik secara serius.

Sejak lahir pada 2007, KarnaTra memerlukan waktu sekitar enam tahun hingga akhirnya melahirkan sebuah album mini beberapa waktu lalu. Kenikmatan bermain di atas panggung mengalahkan niat untuk memasak lagu-lagu yang mereka mainkan di dapur rekaman.

“Kami lebih menikmati ngeband dan manggung tapi proses recording kurang suka, tapi dipaksakan nih kami harus bikin. Ya, ini tribute buat lagu-lagu lama, dan kami punya tanggung jawab pada anak-anak kami ini. Udah lama, ngga rilis-rilis. Kasihan. Terlebih lagi tribute buat yang suka nonton band kami tampil. Banyak yang suka, tapi ngga ada rilis fisiknya. Orang pasti lupa. Menguap begitu saja,” papar Ndit dengan suara beratnya.

Melalui album mini ini, KarnaTra mengantar musik mereka masuk ke dalam kuping pendengar. Artwork sampul album mini karya kekasih Ndit tersebut menunjukkan anatomi luar kuping. Saat membuka lipatan bungkus album tersebut, akan telihat anatomi kuping yang lebih dalam hingga nantinya musik KarnaTra akan menggetarkan gendang telinga.

Saat alunan musik tersebut menggetarkan gendang telinga, otak akan menerima stimulasi dan akhirnya merasakan sensasi. Banyak orang yang menyandingkan sensasi ketika mendengarkan musik KarnaTra sama dengan sensasi yang mereka rasakan ketika mendengarkan Morrissey karena cengkok Ndit yang mirip.

“Sebenarnya gue pengen mengarah ke keroncong, Iwan Fals, Ebiet G. Ade, atau Frank Sinatra, tapi kan ngga sampe tuh, jadi Morrissey boleh juga nih. Cengkoknya mirip soalnya,” kelakar Ndit ketika ditanyakan apakah ada pengaruh cara bernyanyi seperti Morrissey.

Lirik-lirik guratan Iwan Fals memang menginspirasi Ndit untuk membuat lirik lagu KarnaTra yang puitis. Namun, Ndit mengaku ingin membuat lirik yang sepop mungkin.

“Gue belajar sepop mungkin biar bisa merangkul pendengar yang lebih luas. Kami berusaha terus bikin pop, sampai gue rasa ini sudah titik muntahnya. Gue ngga bisa lebih murah lagi. Tapi dari situ gue punya penghargaan sama orang-orang yang bikin lirik ngepop. Mereka kuat ya? Susah loh bikin se-cheesy itu, se-corny itu dan mereka nggak muntah. Hebat,” ungkap Ndit sambil mengernyitkan dahinya.

Lirik yang menunjukkan kritik sosial sangat terlihat dalam lagu favorit semua personel, “Moksa”.

“Moksa sendiri artinya pencapaian tertinggi dalam agama Hindu. Lirik lagu itu sebenarnya mau bilang kalau ada orang yang tersingkirkan dari satu lingkungan, berserulah! Pergi dari sana, menghilang. Lirik-lirik KarnaTra sebenarnya lebih ke arah anti kekerasan. Seperti lagu 'The Riffle' kan sebenarnya kami mau bilang senapan atau riffle kami itu cinta. Love is our riffle,” jelas Ndit.

Di satu sisi, dalam lagu “Lampu Bersinar Gelap” Ndit ingin mengajak orang untuk berkaca terhadap suatu fenomena. “Kadang kita suka ledek orang misalnya dia rela meninggalkan semua mimpinya hanya demi cinta. Tapi coba kita lihat ke diri sendiri. Gue kalo ada di posisi orang itu juga mungkin akan berbuat yang sama,” kata Ndit sambil tersenyum simpul.

Makna kritik yang mengalir dalam kebanyakan lagu KarnaTra bercampur dengan gaya bernyanyi khas Ndit membuat banyak orang menyandingkan mereka dengan beberapa musisi ternama.

“Ada orang bilang kami itu perkawinan antara Morrissey dan Efek Rumah Kaca. Sebenarnya kami bingung kenapa ada yang bilang begitu karena lirik Efek Rumah Kaca lebih lugas, musik kami lebih keras. Gue pengen suatu saat nanti orang kenal KarnaTra karena KarnaTra, bukan karena mirip band ini atau itu. Tapi itu perlu proses sih,” tegas Brian.

Ndit kemudian merefleksikan perjalanan KarnaTra mencari jati dirinya dengan apa yang terjadi pada grup punk rock asal Kanada, Billy Talent. “Setelah gue baca tentang Billy Talent, dia bilang mereka menemukan musik mereka setelah tujuh tahun ngeband. Ternyata emang lama, ngga sekonyong-konyong kami main musik begini, oh ini musik kita,” ungkap Ndit.

Namun, Racim meyakinkan bahwa jati diri KarnaTra akan terlihat jelas dalam album penuh yang ditargetkan keluar pada akhir tahun ini. “Gue yakin identitas itu bakal ada di album selanjutnya. Gue sendiri belum pernah lihat gaya main gitar seperti Puguh di album baru nanti. Tunggu aja,” seloroh Racim.

Untuk memasarkan sebuah album, KarnaTra sendiri mengaku masih merasa kesulitan. “Sebenarnya ini ajang untuk belajar. Yang jadi masalah adalah setelah karya jadi, apa yang harus dilakukan? Dengan peluncuran EP kemarin kami bisa belajar gimana cara distribusi yang baik buat album selanjutnya,” papar Ndit.

Walaupun album mini sebelumnya dirilis secara independen, KarnaTra mengaku tidak mendeklarasikan diri mereka sebagai musisi “indie”.

Ndit menegaskan pernyataan tersebut dengan berkata, “Kami tidak mengklasifikasikan band kami band indie. Kami mau-mau aja masuk major label. Tergantung bagaimana kesepakatannya. Morrissey itu salah satu guru gue. Ada satu ajarannya yang akan selalu gue ingat, ‘Stay true!’ Jadi mau di manapun kami tumbuh, yang penting kami akan stay true.”

source:rollingstone

No comments:

Post a Comment