Apply to be a Chitika Publisher!

Tuesday, 7 May 2013

Pendatang Baru Post-Punk Kota Pahlawan, Cotswolds

Butuh waktu empat sampai lima bulan untuk menunggu Cotswolds dari panggung yang satu ke panggung berikutnya. Jarak menjadi kendala band pendatang baru asal Surabaya ini, mengingat drummer mereka, Farras Fauzi berdomisili di Bandung sementara tiga sisanya menetap di kota Pahlawan.

“Ini saja sebenarnya saya sedang ada jadwal UTS besok,” ujar Farras seraya benar-benar memprioritaskan penampilan bandnya yang pertama sejak mereka merilis album mini bertajuk Cotswolds, pertengahan Maret lalu.
Pengorbanan Farras terbayar lunas pada Minggu, 21 April lalu ketika ia dan bandnya mendapatkan sambutan meriah dari kerumunan penonton yang “pecah” untuk ukuran sebuah band pembuka, ketika itu acara juga diisi oleh indie pop senior asal Semarang, OK Karaoke, dan grup alternatif rock Surabaya, Dopest Dope.


Permintaan encore pun sempat tersulut dari salah seorang penonton di acara Easily Amused di Nens Corner Surabaya saat itu. Sayang, minimnya materi lagu dan persiapan latihan yang kurang membuat Farras dkk langsung meninggalkan panggung begitu saja.

Selain Farras, Cotswolds juga terdiri dari Windrata “Teddy” Faizal (vokal, gitar), Dwiki “Gruwok” Putra (gitar), dan Wing Wisesa (bass). Nama Cotswolds ditemukan oleh sang bassist, Sesa yang merujuk pada sebuah daerah tujuan wisata di Inggris yang juga bernama sama. Ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pun artinya adalah sebuah “pondok yang tandus”. “Sesuai dengan musik kami yang terdengar tandus,” ujar Sesa.

Masalah identitas musik, hingga turun panggung pasca penampilan perdana mereka setelah rilis album mini, dan bahkan dua hari setelah itu saat Rolling Stone menemui mereka, kawanan ini belum dapat menjelaskan secara tegas musik apa yang mereka mainkan.

Melalui keterangan pers yang tertulis di kanal net label Tsefula/Tsefuelha Records, sub label milik netlabel Yes No Wave, pendistribusi album mini Cotswolds dijelaskan bahwa kuartet asal Surabaya ini memainkan musik post punk era 70-an akhir dengan referensi katalog-katalog lama milik label-label independen Britania Raya, Postcard Records dan Sarah Records.

Meskipun begitu, Cotswolds sendiri merasa tidak memainkan musik post punk seutuhnya. Bahkan menurut pengakuan keempatnya, ada pula yang menyebut musik mereka post rock dan shoegaze. Namun mereka juga kurang sependapat dengan hal itu.

“Kami sendiri sebenarnya merasa belum paham dengan pakem di post punk. Malah lebih ke shoegaze-nya kalau untuk Cotswolds ini. Maka dari itu, masih bingung juga untuk mendeskripsikan musik kami,” tutur sang vokalis, Teddy yang justru lebih banyak terpengaruh band-band post punk macam Joy Division dan The Cure.

Sekadar informasi, sejak penampilan perdana Cotswolds di salah satu acara pribadi di Surabaya tahun lalu, Teddy telah bernyanyi dengan bantuan efek echo dan reverb sementara suara pria berkacamata ini terdengar bariton berkarakter rendah dan menggaung. Sekilas terdengar seperti mendengarkan mendiang Ian Curtis bernyanyi lagi. Padahal di panggung pertamanya itu, Cotswolds masih membawakan ulang lagu-lagu indie pop milik Zeke and The Popo dan The Pains of Being Pure At Heart.

“Mungkin yang membuat terdengar shoegaze ya lick gitar yang dimainkan Gruwok. Yang membawa distorsi gitar yang fuzzy. Kalo saya, beat drumnya kan lebih ke post punk, yang cepat dan teratur. Memang karena pengaruh saya dari situ (musik-musik post punk),” jelas Farras. “Makanya melebur, jadinya ya... Cotswolds,” ungkapnya lagi menyimpulkan musik apa yang ia dan bandnya mainkan.

Album mini Cotswolds sendiri berisi empat lagu, diantaranya “Intro”, “European Ocean”, “Fire”, dan “Plasticity”. Mereka tidak mengonsep secara khusus setiap lirik-lirik lagu yang mereka ciptakan. Bentuk musik seperti apa yang akan dimainkan adalah perhatian utama mereka.

“Tiga dari empat lagu yang saya tulis liriknya itu tidak ada pesan khusus sih yang ingin disampaikan. Kami lebih suka bereksperimen dengan musik yang kami mainkan,” tutur sang frontman.

Cotswolds mendistribusikan album mini mereka melalui Tsefula/Tsefuelha Records yang merupakan sub label milik Yes No Wave dan dapat diunduh secara cuma-cuma melalui situs YesNoWave.com.

Pilihan untuk mendistribusikan album secara gratis melalui internet sengaja dipilih Cotswolds karena merasa belum siap untuk sebuah rilisan fisik berupa album penuh.

“Untuk keinginan rilis fisik sih ada. Tapi mungkin menunggu materi lagu-lagu kami terkumpul lebih banyak dulu. Materi yang kami rilis di album mini ini sebenarnya juga dadakan. Materi yang terkumpul itu menurut kami masih belum terlalu rapi. Jadi, kurang pantas saja kalau harus terburu-buru merilis album ini secara fisik,” jelas Gruwok yang diamieni personil lainnya.

“Dengan materi lagu yang sudah terkumpul lebih banyak dari sekarang dan digarap lebih serius dan rapi, kami siap untuk merilis album fisik. Pinginnya kami distribusikan sendiri melalui tur-tur kami di beberapa kota nantinya, amien,” kata Teddy seraya mengungkapkan impiannya merilis album penuh.

Tak ada yang mengira sambutan album mini Cotswolds akan semeriah ini. Para personel mengaku awalnya hanya ingin merekam materi-materi yang sudah ada dan kemudian menjadikannya rekaman demo terlebih dahulu. Ini mereka lakukan tepat sebelum drummer mereka, Farras hendak kembali lagi ke Bandung untuk melanjutkan studinya pada Februari lalu.

Setelah jadi dan melempar keempat materi lagu itu ke dunia maya, ternyata sambutan yang datang pun lebih dari yang mereka bayangkan. Tawaran main hingga ulasan album pun mereka peroleh dari dalam dan luar negeri.

“Bahkan ada salah satu online radio di Inggris memutar lagu kami dan salah satu media musik online di China mengulas album mini ini. Sayangnya, karena dituliskan dalam huruf Mandarin kami tidak bisa melacaknya di Google,” tutur Gruwok.

Permintaan manggung tertinggi jelas berasal dari kota asal mereka, Surabaya. Butuh waktu hampir satu bulan semenjak Cotswolds merilis album mini mereka hingga akhirnya dapat melihat band ini bermain langsung di depan mata dan membuat kerumunan di Nens Corner Surabaya pada malam itu (24/4) pecah, meminta mereka untuk terus bermain.

“Jika sudah begini, jelas kami terpacu untuk membuat album penuh,” ujar Farras semangat. “Dengan keluarnya album mini kami kemarin harapannya bisa memberikan warna baru di kancah musik Tanah Air, dan bangganya lagi adalah kami berasal dari Surabaya. Banyak yang mengira kancah musik kota ini sudah mati, tapi toh buktinya beberapa tahun terakhir Surabaya juga merilis band-band terbaiknya dengan warna musik yang beragam pula, salah satunya adalah Cotswolds.”

sumber:rollingstone

No comments:

Post a Comment