Butuh waktu empat sampai lima bulan untuk menunggu Cotswolds dari
panggung yang satu ke panggung berikutnya. Jarak menjadi kendala band
pendatang baru asal Surabaya ini, mengingat drummer mereka, Farras Fauzi
berdomisili di Bandung sementara tiga sisanya menetap di kota Pahlawan.
“Ini
saja sebenarnya saya sedang ada jadwal UTS besok,” ujar Farras seraya
benar-benar memprioritaskan penampilan bandnya yang pertama sejak mereka
merilis album mini bertajuk Cotswolds, pertengahan Maret lalu.
Pengorbanan
Farras terbayar lunas pada Minggu, 21 April lalu ketika ia dan bandnya
mendapatkan sambutan meriah dari kerumunan penonton yang “pecah” untuk
ukuran sebuah band pembuka, ketika itu acara juga diisi oleh indie pop
senior asal Semarang, OK Karaoke, dan grup alternatif rock Surabaya,
Dopest Dope.
Permintaan encore pun sempat tersulut dari
salah seorang penonton di acara Easily Amused di Nens Corner Surabaya
saat itu. Sayang, minimnya materi lagu dan persiapan latihan yang kurang
membuat Farras dkk langsung meninggalkan panggung begitu saja.
Selain Farras, Cotswolds juga
terdiri dari Windrata “Teddy” Faizal (vokal, gitar), Dwiki “Gruwok”
Putra (gitar), dan Wing Wisesa (bass). Nama Cotswolds ditemukan oleh
sang bassist, Sesa yang merujuk pada sebuah daerah tujuan wisata di
Inggris yang juga bernama sama. Ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia pun artinya adalah sebuah “pondok yang tandus”. “Sesuai dengan
musik kami yang terdengar tandus,” ujar Sesa.
Masalah identitas
musik, hingga turun panggung pasca penampilan perdana mereka setelah
rilis album mini, dan bahkan dua hari setelah itu saat Rolling Stone menemui mereka, kawanan ini belum dapat menjelaskan secara tegas musik apa yang mereka mainkan.
Melalui
keterangan pers yang tertulis di kanal net label Tsefula/Tsefuelha
Records, sub label milik netlabel Yes No Wave, pendistribusi album mini Cotswolds dijelaskan
bahwa kuartet asal Surabaya ini memainkan musik post punk era 70-an
akhir dengan referensi katalog-katalog lama milik label-label independen
Britania Raya, Postcard Records dan Sarah Records.
Meskipun
begitu, Cotswolds sendiri merasa tidak memainkan musik post punk
seutuhnya. Bahkan menurut pengakuan keempatnya, ada pula yang menyebut
musik mereka post rock dan shoegaze. Namun mereka juga kurang sependapat
dengan hal itu.
“Kami sendiri sebenarnya merasa belum paham
dengan pakem di post punk. Malah lebih ke shoegaze-nya kalau untuk
Cotswolds ini. Maka dari itu, masih bingung juga untuk mendeskripsikan
musik kami,” tutur sang vokalis, Teddy yang justru lebih banyak
terpengaruh band-band post punk macam Joy Division dan The Cure.
Sekadar
informasi, sejak penampilan perdana Cotswolds di salah satu acara
pribadi di Surabaya tahun lalu, Teddy telah bernyanyi dengan bantuan
efek echo dan reverb sementara suara pria berkacamata ini terdengar
bariton berkarakter rendah dan menggaung. Sekilas terdengar seperti
mendengarkan mendiang Ian Curtis bernyanyi lagi. Padahal di panggung
pertamanya itu, Cotswolds masih membawakan ulang lagu-lagu indie pop
milik Zeke and The Popo dan The Pains of Being Pure At Heart.
“Mungkin yang membuat terdengar shoegaze ya lick gitar yang dimainkan Gruwok. Yang membawa distorsi gitar yang fuzzy. Kalo saya, beat drumnya
kan lebih ke post punk, yang cepat dan teratur. Memang karena pengaruh
saya dari situ (musik-musik post punk),” jelas Farras. “Makanya melebur,
jadinya ya... Cotswolds,” ungkapnya lagi menyimpulkan musik apa yang ia
dan bandnya mainkan.
Album mini Cotswolds sendiri
berisi empat lagu, diantaranya “Intro”, “European Ocean”, “Fire”, dan
“Plasticity”. Mereka tidak mengonsep secara khusus setiap lirik-lirik
lagu yang mereka ciptakan. Bentuk musik seperti apa yang akan dimainkan
adalah perhatian utama mereka.
“Tiga dari empat lagu yang saya
tulis liriknya itu tidak ada pesan khusus sih yang ingin disampaikan.
Kami lebih suka bereksperimen dengan musik yang kami mainkan,” tutur
sang frontman.
Cotswolds mendistribusikan album mini
mereka melalui Tsefula/Tsefuelha Records yang merupakan sub label milik
Yes No Wave dan dapat diunduh secara cuma-cuma melalui situs YesNoWave.com.
Pilihan
untuk mendistribusikan album secara gratis melalui internet sengaja
dipilih Cotswolds karena merasa belum siap untuk sebuah rilisan fisik
berupa album penuh.
“Untuk keinginan rilis fisik sih ada. Tapi
mungkin menunggu materi lagu-lagu kami terkumpul lebih banyak dulu.
Materi yang kami rilis di album mini ini sebenarnya juga dadakan. Materi
yang terkumpul itu menurut kami masih belum terlalu rapi. Jadi, kurang
pantas saja kalau harus terburu-buru merilis album ini secara fisik,”
jelas Gruwok yang diamieni personil lainnya.
“Dengan materi lagu
yang sudah terkumpul lebih banyak dari sekarang dan digarap lebih serius
dan rapi, kami siap untuk merilis album fisik. Pinginnya kami
distribusikan sendiri melalui tur-tur kami di beberapa kota nantinya,
amien,” kata Teddy seraya mengungkapkan impiannya merilis album penuh.
Tak
ada yang mengira sambutan album mini Cotswolds akan semeriah ini. Para
personel mengaku awalnya hanya ingin merekam materi-materi yang sudah
ada dan kemudian menjadikannya rekaman demo terlebih dahulu. Ini mereka
lakukan tepat sebelum drummer mereka, Farras hendak kembali lagi ke
Bandung untuk melanjutkan studinya pada Februari lalu.
Setelah
jadi dan melempar keempat materi lagu itu ke dunia maya, ternyata
sambutan yang datang pun lebih dari yang mereka bayangkan. Tawaran main
hingga ulasan album pun mereka peroleh dari dalam dan luar negeri.
“Bahkan
ada salah satu online radio di Inggris memutar lagu kami dan salah satu
media musik online di China mengulas album mini ini. Sayangnya, karena
dituliskan dalam huruf Mandarin kami tidak bisa melacaknya di Google,”
tutur Gruwok.
Permintaan manggung tertinggi jelas berasal dari
kota asal mereka, Surabaya. Butuh waktu hampir satu bulan semenjak
Cotswolds merilis album mini mereka hingga akhirnya dapat melihat band
ini bermain langsung di depan mata dan membuat kerumunan di Nens Corner
Surabaya pada malam itu (24/4) pecah, meminta mereka untuk terus
bermain.
“Jika sudah begini, jelas kami terpacu untuk membuat album penuh,” ujar
Farras semangat. “Dengan keluarnya album mini kami kemarin harapannya
bisa memberikan warna baru di kancah musik Tanah Air, dan bangganya lagi
adalah kami berasal dari Surabaya. Banyak yang mengira kancah musik
kota ini sudah mati, tapi toh buktinya beberapa tahun terakhir Surabaya
juga merilis band-band terbaiknya dengan warna musik yang beragam pula,
salah satunya adalah Cotswolds.”
sumber:rollingstone

No comments:
Post a Comment