Apply to be a Chitika Publisher!

Tuesday, 7 May 2013

Karen O (Yeah Yeah Yeahs)


Dalam salah satu konser Yeah Yeah Yeahs, drummer Brian Chase secara tak sengaja menghantam hidungnya sendiri. Darah muncrat. Semakin ia berdarah, semakin keras ia menggebuk drumnya, dan semakin keras ia menggebuk drumnya, semakin deras darah yang keluar. Kaus putihnya dengan segera jadi berwarna merah.

“Sudah beberapa konser drum Brian berlumuran darah,” kata vokalis Karen O.

Trio asal New York ini dengan cepat menarik perhatian berkat aksi pertunjukan mereka yang ‘kacau balau’: si penyanyi dengan pakaian-pakaian ajaib hasil rancangan temannya atau menyemprotkan bir dari mulutnya. Namun mereka juga dikenal lebih dari itu berkat keterampilan menulis lagu yang semakin tajam dan berkembang.


Dalam album keempat mereka yang cemerlang dan beragam, Mosquito, diproduksi oleh kolaborator lama mereka, Dave Sitek dari TV on the Radio, dan satu lagu yang digarap oleh James Murphy dari LCD Soundsystem, mereka memasukkan paduan suara gospel dan cameo rap dari Dr. Octagon tanpa kehilangan intensitas mereka yang begitu kuat.
Paduan suara dalam lagu baru Anda, “Sacrilege”, merupakan kejutan besar—sesuatu yang muncul di dua menit terakhir. Kenapa Anda mencoba itu?
Saya selalu mencari-cari kesempatan untuk memasukkan paduan suara ke dalam lagu-lagu kami, tapi gagasan itu terasa sangat radikal. Jujur, saya benar-benar tidak siap menyaksikan paduan suara beranggotakan 24 orang menyanyikan lirik saya. Rasanya seperti mengawang-awang.
Beberapa lagu baru tampaknya bertema hubungan Anda dengan kegelisahan. Kapan Anda merasa gelisah?
Saya bisa kewalahan akan banyak hal yang tidak mengganggu orang lain. Misalnya, jalan kaki di New York [tertawa]. Atau naik subway. Kurang lebih hal-hal yang berurusan dengan manusia. Dan separah-parahnya saya mudah gelisah, [gitaris] Nick [Zinner] dua kali lebih gawat daripada saya. Sebaiknya kami ditaruh di dua kamar berbeda karena di dalam kamar, ia cuma berputar tanpa henti dan menggerutu. Saya tanya, “Dia kenapa sih?” Tapi kadang, begitu saya memegang mikrofon, semua kegelisahan itu hilang.
Bagaimana Anda menemukan gaya bernyanyi Anda? Tak ada yang seperti itu.

Ada dua bagian. Awalnya, penyanyi-penyanyi yang saya tiru adalah mereka yang agak aneh dan bersuara tinggi, seperti Neil Young dan Jeff Mangum dari Neutral Milk Hotel. Saat dengar Neil Young pertama kalinya, komentar kita kurang lebih adalah, “Orang seperti ini populer?” Suara saya kurang lazim, jadi saya pikir, “Sepanjang saya bernyanyi sepenuh hati seperti orang-orang ini, saya juga bisa.” Lalu ketika kami mulai, saya bernyanyi melalui megaphone mainan yang saya beli di Avenue A. Ada tiga setting: sangat terdistorsi, seperti makhluk luar angkasa, dan satu lagi seperti setan. Lalu saya buang megaphone itu dan mencoba untuk membuat suara-suara seperti itu tanpanya.
Anda lahir di Korea Selatan, dan ibu Anda berdarah Korea. Anda mengikuti soal Psy?
Ayah saya mengirimkan tautan video “Gangnam Style” tahun lalu, dan saya menangis begitu menontonnya, jadi emosional. Saat itu saya berencana pergi ke Korea untuk berziarah, kakek saya baru meninggal. Saya punya hubungan yang sangat positif dengan Seoul dan Korea karena saya sangat dekat dengan kakek dan nenek saya.
Banyak orang yang menangis akibat tertawa melihat “Gangnam Style”, tapi sepertinya Anda menangis akibat rasa bangga.
Yeah, rasa bangga yang sentimentil. Sebagai gadis setengah Korea yang tumbuh di New Jersey, saya ingin jadi berkulit putih supaya bisa melebur di dalam masyarakat—tapi saya juga senang karena berdarah ‘setengah’ adalah aset. Saya sudah menunggu-nunggu Korea jadi sesuatu yang relevan secara budaya, dan itu mulai kejadian.
Anda bilang bahwa semasa anak-anak, Anda sangat ceroboh. Kalau kita melihat Karen O umur 12 tahun, seperti apa dia?
Oh, dear. Seorang anak perempuan dengan wajah berjerawat, pakai kawat gigi dan rambut keriting. Fase yang jelek. Saya jelas-jelas seorang ugly duckling, tapi saya percaya diri, lucu dan bangga akan diri sendiri. Saya suka The Rocky Horror Picture Show, dan teman-teman bersama saya sering mementaskannya ulang dan memakai kostum waria.
Baru-baru ini Anda menikah. Seperti apa hari pernikahan Anda?
Suami saya dan saya kawin lari, lalu kami buat pesta besar-besaran di Russian Tea Room di New York satu bulan kemudian.
Musik seperti apa yang dimainkan saat pesta itu—band atau DJ?
Ada all-star indie band. Saya menyanyikan “Empire State of Mind”.
Rambut Anda jadi pirang belakangan. Apa inspirasinya?
Gaya rambut adalah keputusan besar, dan saya memikirkannya hampir setiap hari selama berbulan-bulan [tertawa]. Saya tidak tertarik pada mode tapi saya sangat tertarik pada gaya. Setelah 13 tahun dalam band, berambut pirang peroxide membebaskan saya dari citra sebelumnya. Percayalah, saya sering berpikir begini: kapan saya akan kembali ke warna rambut semula? Rambut adalah hal yang penting!

sumber:rollingstone

No comments:

Post a Comment